• Jelajahi

    Created By mspstore
    Copyright © Lensa Keadilan .ID
    Published By

    UCAPAN RAMADHAN

    no-style

    BREAKING NEWS

    Loading...

    Sahabat-AI: Ketika Indonesia Tak Lagi Hanya Menjadi Penonton di Era Kecerdasan Buatan

    Thursday, February 26, 2026, February 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-26T12:27:55Z

    Sahabat-AI: Ketika Indonesia Tak Lagi Hanya Menjadi Penonton di Era Kecerdasan Buatan

    Suara di Perpustakaan yang Menggema hingga Ruang Digital Nusantara

    Pada sore yang gerimis tipis di Rabu, 25 Februari 2026, Perpustakaan Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat berubah menjadi panggung sejarah teknologi yang tak banyak disadari publik. Dari tengah barisan undangan, di antara para pelajar, pengembang, dan jurnalis, terdengar suara Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, memanggil masyarakat Indonesia untuk “mengisi” sebuah sahabat baru – bukan sosok manusia, tetapi sebuah kecerdasan buatan yang dinamai Sahabat-AI. Seperti dilaporkan Kumparan dalam liputannya, peluncuran platform ini dipenuhi semangat optimistis namun sarat tantangan realitas digital Indonesia yang kompleks.

    Sahabat-AI: Ketika Indonesia Tak Lagi Hanya Menjadi Penonton di Era Kecerdasan Buatan

    AI “Paling Indonesia” yang Butuh Kita Semua

    Sahabat-AI bukan sekadar aplikasi teknologi tinggi. Di hadapan audiens yang memperhatikan dengan serius, Meutya Hafid menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak bisa berkembang sendiri. “Sepintar apa pun teknologi, dia tidak akan pintar tanpa kita,” ujarnya, sebagaimana juga dikutip Detik dalam laporannya. Pernyataan itu bukan retorika; ia adalah panggilan langsung kepada jutaan anak muda digital Indonesia untuk ikut mengisi data dan interaksi yang menjadi nadi bagi kecerdasan platform ini.

    Menjadi “paling Indonesia” bukan sekadar slogan. Sejumlah media nasional seperti Antara menyoroti bahwa Sahabat-AI dibangun dengan akar bahasa, nilai, dan konteks kehidupan lokal – mampu memahami bukan hanya bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Batak, dan Bali. Inilah yang membedakan produk ini dari banyak AI global yang lahir tanpa sentuhan kultural Nusantara.

    Antara Kedaulatan Digital dan Tantangan Etika

    Dalam laporan Antara, Meutya juga menyinggung langkah tegas pemerintah yang pernah memblokir salah satu perusahaan AI global karena dinilai melanggar aturan hukum dan etika di Indonesia. Pernyataan itu bukan sekadar sindiran, melainkan penegasan arah kebijakan: Indonesia tak ingin sekadar menjadi pasar yang menerima mentah-mentah teknologi asing.

    Sahabat-AI, menurut pemerintah, dirancang dengan guardrails atau sistem pengaman berlapis yang selaras dengan norma dan etika nasional. Di sinilah konsep “Sovereign AI” atau AI Berdaulat menemukan relevansinya—sebuah sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga tunduk pada kepentingan, nilai, dan hukum Indonesia.

    Dari Pasar Besar ke Kreator Dunia

    Indonesia saat ini disebut sebagai salah satu pasar digital terbesar dunia. Data yang dipaparkan dalam berbagai laporan media menyebut tingkat keterhubungan digital telah melampaui 80 persen populasi, atau sekitar 230 juta penduduk. Namun bagi Meutya, angka itu belum cukup jika Indonesia hanya diposisikan sebagai “pasar”.

    Ia mendorong transformasi dari sekadar konsumen menjadi kreator digital global. Sahabat-AI diproyeksikan sebagai salah satu alat untuk mendorong lompatan tersebut. Platform ini dibekali kemampuan multi-model dan multi-modal—mulai dari teks ke gambar, teks ke video, hingga bantuan pemrograman—yang membuka peluang produktivitas digital lebih luas bagi masyarakat.

    Bukan Sekadar Teknologi, Tetapi Identitas Digital

    Lebih jauh, peluncuran ini juga membawa pesan simbolik. Indonesia ingin memiliki kecerdasan buatan yang tumbuh dari rahim budayanya sendiri. Sebuah AI yang memahami konteks sosial, keragaman bahasa, dan sensitivitas masyarakatnya. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital dalam sejumlah pemberitaan turut menegaskan bahwa pendekatan berbasis budaya lokal dapat menjadi kekuatan strategis Indonesia dalam kompetisi teknologi global.

    Penutup

    Dari sebuah ruangan sunyi penuh buku di jantung Jakarta, sebuah pesan besar dikirimkan ke seluruh negeri: masa depan kecerdasan buatan Indonesia tidak boleh hanya dikendalikan dari luar. Sahabat-AI adalah simbol ambisi untuk merajut teknologi dan identitas nasional dalam satu tarikan napas digital. Namun ambisi itu hanya akan hidup jika publik benar-benar menggunakannya, mengkritisinya, dan mengembangkannya bersama. Apakah Indonesia siap melangkah dari pasar menjadi kreator? Jawabannya kini berada di tangan kita. Untuk kisah lebih mendalam dan analisis lanjutan, kunjungi www.lensakeadilan.id

    Komentar

    Tampilkan

    Parlementaria

    +